Beranda » Kesehatan » Peran Dokter sebagai Tenaga Kesehatan Haji
click image to preview activate zoom

Peran Dokter sebagai Tenaga Kesehatan Haji

Rp 90.000
Stok Pre Order
KategoriKesehatan
Tentukan pilihan yang tersedia!
PRE ORDER
Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut mengenai pemesanan produk ini.
Bagikan ke

Peran Dokter sebagai Tenaga Kesehatan Haji

Judul               :  Peran Dokter sebagai Tenaga Kesehatan Haji 

Penulis            : Dr. dr. Siti Nuriyatus Zahrah,. MKM

Ukuran             : 14  x 20 cm

Tebal                  :  165  Halaman

Cover                 : Soft Cover

 

SINOPSIS

Buku Peran Dokter sebagai Tenaga Kesehatan Haji ini disusun bukan sekadar sebagai panduan teknis, melainkan sebagai kerangka berpikir komprehensif tentang bagaimana seorang dokter harus memaknai tugasnya dalam konteks ibadah haji yang berisiko tinggi, khususnya pada populasi lansia dengan multimorbiditas. Buku ini menegaskan bahwa pelayanan kesehatan haji berada dalam spektrum mass gathering medicine, sebuah bidang yang menuntut kesiapan klinis, ketajaman deteksi dini, serta kemampuan manajemen risiko dalam situasi lingkungan ekstrem, kepadatan massa, dan keterbatasan akses medis. Sejak awal, pembaca diajak memahami bahwa dokter haji bukan hanya “penjaga kesehatan”, tetapi pengambil keputusan strategis yang sering kali harus menimbang keselamatan jiwa di atas dorongan emosional dan spiritual jamaah.

Secara konseptual, buku ini memetakan peran dokter haji dalam tiga fase besar: pra-keberangkatan, saat pelaksanaan ibadah, dan pascakepulangan. Pada fase pra-keberangkatan, dokter ditempatkan sebagai penjaga gerbang keselamatan (gatekeeper of safety). Di sinilah skrining risiko, optimalisasi penyakit kronis, penyesuaian regimen obat, hingga keberanian merekomendasikan penundaan keberangkatan menjadi bagian dari tanggung jawab moral dan profesional. Buku ini secara tajam menunjukkan bahwa keputusan menunda keberangkatan bukan bentuk kegagalan pelayanan, melainkan bentuk tertinggi dari prinsip primum non nocere, tidak membahayakan pasien.

Dalam fase pelaksanaan ibadah, buku ini menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan klinis terhadap presentasi atipikal pada lansia. Dokter haji harus mampu membaca tanda-tanda yang tersamarkan: infark tanpa nyeri dada, infeksi tanpa demam tinggi, delirium sebagai manifestasi gangguan sistemik. Pendekatan yang diusulkan bukan reaktif, tetapi antisipatif, menganggap setiap perubahan kondisi pada lansia sebagai potensi kegawatdaruratan hingga terbukti sebaliknya. Di sinilah terlihat bahwa kompetensi dokter haji bukan hanya klinis, tetapi juga epidemiologis dan manajerial, karena ia bekerja dalam sistem layanan lintas negara dengan dinamika logistik yang kompleks.

Lebih jauh, buku ini menekankan dimensi edukatif dan komunikatif dari peran dokter. Konsep seperti hidrasi terjadwal, pencegahan DVT, vaksinasi, hingga “pacing” dalam aktivitas ibadah dijelaskan sebagai intervensi preventif yang sederhana namun berdampak besar. Dokter haji diposisikan sebagai pendidik yang membentuk ekspektasi realistis jamaah bahwa menjaga kesehatan adalah bagian integral dari ibadah itu sendiri. Konseling realistis, edukasi rukhshah, dan pendekatan empatik menjadi strategi untuk menjembatani antara semangat spiritual dan keterbatasan fisiologis lansia.

Secara konseptual, buku ini menempatkan kedokteran haji sebagai bagian dari kedokteran matra. Seperti halnya kedokteran penerbangan, kedokteran kelautan, atau kedokteran militer, kedokteran haji memiliki karakteristik lingkungan khusus yang memengaruhi fisiologi manusia dan pola penyakit. Faktor panas ekstrem, dehidrasi, kepadatan populasi, perjalanan jarak jauh, perubahan ritme sirkadian, serta keterbatasan fasilitas menjadikan haji sebagai “matra” tersendiri dengan determinan risiko yang khas. Oleh karena itu, mahasiswa kedokteran perlu memahami bahwa praktik klinis tidak selalu berlangsung dalam kondisi ideal rumah sakit, melainkan sering berada dalam konteks lingkungan yang membentuk spektrum penyakit dan menentukan strategi penanganannya.

Pada akhirnya, buku ini mengajak mahasiswa kedokteran melihat peran dokter haji sebagai integrasi antara ilmu klinis, kedokteran komunitas, manajemen risiko, dan etika profesi dalam satu kesatuan praktik. Dokter haji bukan sekadar pemberi terapi, melainkan pengambil keputusan strategis dalam situasi dengan tekanan waktu, keterbatasan sumber daya, dan ekspektasi spiritual yang tinggi. Memahami kedokteran haji sebagai bagian dari kedokteran matra memperluas wawasan mahasiswa bahwa kompetensi dokter harus adaptif terhadap konteks lingkungan. Dengan perspektif ini, keselamatan jamaah tidak hanya menjadi tujuan pelayanan, tetapi menjadi ukuran profesionalisme dan kematangan klinis seorang dokter.

 

 

Peran Dokter sebagai Tenaga Kesehatan Haji

Berat300 gram
Kondisi Baru
Dilihat 4 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Produk Terkait

Social Media & Marketplace
Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Laras
● online
Dewanty
● online
Fitri
● online
Laras
● online
Halo, perkenalkan saya Laras
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja